PINK BOLD of MEMORY part 4 – Cross R

PINK BOLD of MEMORY part 4 – Cross R

350
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

Sore itu aku sedang menonton TV. Sejak putus dari R dan bertekad untuk melupakannya, aku selalu berusaha mencari kesibukkan dan tidak terlalu banyak melihat HP. Terapi ini cukup membantu ku, meskipun sangat sulit. Dari membaca buku, menonton TV, mengerjakan tugas, sampai menanam cabai setiap hari minggu atau memilah sampah, mencari sesuatu untuk dibuat sesuatu. Hal yang semakin rumit ku kerjakan akan semakin membuatku melupakan R, meskipun tidak permanen.

Dreett…dreet…handphone ku bergetar, tepat saat aku masuk kamar setelah bosan menonton TV. Sepertinya ada SMS masuk. Segera ku buka dan kubaca pesan itu.

Adt : “Rhee..aku mengirim permintaan pertemanan di FB-mu lho, dikonfirm yaa..”

Aku langsung menyalakan laptop, membuka akun facebook milik ku. Benar saja ada permintaan pertemana baru. “Ilo Se” bisik ku. AKu tidak langsung mengkonfirmasi akun tersebut, aku membuka profil akun tersebut. Cukup penasaran juga dengan orang itu. Setelah melihat-lihat keterangan dalam akun tersebut aku mencoba mengingat-ingat, tapi tetap saja aku tidak ingat dengan orang ini.

Dreett…dreet…handphone ku bergetar kembali. Sepertinya ada SMS masuk. Segera ku buka dan kubaca pesan itu.

Adt : “Rhee..apa kamu sibuk?”
Aku : “Enggak”
Adt : ” ๐Ÿ™‚ sedang apa? Sudah dikonfirm belum Rhee?”
Aku : “iyaa sebentar lagi”
Adt : “Oke.. ๐Ÿ™‚ aku tunggu”

Orang ini cukup menyebalkan juga, pikirku. Lalu ku lihat lagi akun FB bernama “Ilo Se” itu. Aku konfirmasi permintaan pertemanannya, dan sejak itu kami sudah berteman di facebook. Kemudian kuraih handphone ku, ku ketik sesuatu untuk Adt.

Aku : “Ilo Se”
Adt : “yaps..itu akun FB-ku, diingat ya Rhee.. ๐Ÿ™‚ ”

Belum sempat membalas, notifikasi di akun FB-ku menyala, ada inbox dari “Ilo Se”.

Ilo Se : “Hai Rhea.. ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ”
RheAzZahra : ” ๐Ÿ™‚ ”

Dreett…dreet…handphone ku bergetar kembali. Sepertinya ada SMS masuk. Segera ku buka dan kubaca pesan itu.

Adt : “Gimana Rhee…udah ingat aku?”
Aku : “Belum”
Adt : “Belum ya..emm g pa pa ๐Ÿ™‚ nanti lama-lama juga ingat ๐Ÿ™‚ ”
Aku : “Maaf, tapi aku benar-benar lupa”
Adt : “Nggak Rhee..aku yang minta maaf, sudah loss contact ๐Ÿ™‚ aku pindah soalnya”
Aku : “Oh…”
Adt : “Rhe lagi ngapain sekarang?”
Aku : “Mau tidur”
Adt : “Iya udah, Rhe tidur sekarang ๐Ÿ™‚ sampai besok ya Rhee..selamat malam ๐Ÿ™‚ ”

Aku masih tidak percaya kalu aku mengenal laki-laki ini. Tapi aku benar-benar lupa siapa dia, mungkinkah aku dan Adt dulu pernah dekat, kenapa sikapnya begitu akrab dan meyakinkan seperti dulu pernah sama-sama. Apa mungkin aku mengenalnya sebelum mengenal R? Ah..rasanya tidak, pertama kali aku melihat, memperhatikan, dan mengenal laki-laki itu hanya R. Bahkan selama berpacaran dengan R, aku sama sekali tidak menanggapi berlebihan laki-laki lain. Saat itu dunia ku hanya R, semuanya tentang R, sejak bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan mimpi pun tentang R. Ah..sebegitu tergila-gilanya aku dengan R, pikirku. Tiba-tiba aku teringat R lagi, mengutuknya lagi karna meninggalkan aku tanpa perasaan. Malam itu emosi ku meluap-luap lagi. Ini tidak boleh terjadi, segera ku matikan lampu lalu berusaha tidur.

* * *

Dreett…dreet…handphone ku bergetar. Alarm ku berusaha membangunkan aku. Hari ini sabtu, kuliah libur. Aku sungguh ingin bangun siang saat seperti ini. Dreett…dreet…handphone ku bergetar, tapi bukan alarm lagi, sepertinya ada SMS masuk. Segera ku buka dan kubaca pesan itu. Siapa yang pagi-pagi sudah mengirimi SMS, pikir ku.

Adt : “Pagi Rhee..sudah bangun belum?”

Adt?, apa dia benar-benar berniat membuat ku ingat dengannya?, aku bertanya-tanya dalam hati. Ku ketik balasan untuknya.

Aku : “Sudah”
Adt : “Rajin yaa..sekarang ๐Ÿ™‚ ”
Aku : “Maksudmu?”
Adt : “Iyaa..kalau dulu kan enggak, berangkat sekolah aja siang terus, pasti pas bel baru masuk gerbang..haha..”

Wahh…pagi yang mengagetkan, kali ini sepertinya dia benar-benar membuatku percaya. Dia tau kebiasaanku berangkat ke sekolah. Aku berangkat siang bukan berarti nggak rajin, tapi karna biar ketemu seseorang, kataku dalam hati. Hah..dia mengingatkan ku kembali dengan R. Kenapa pagi-pagi begini, pikir ku. Aku jengkel sekali kemudian beranjak dari tempat tidur, meninggal handphone-ku tergeletak di tempat tidur. Aku tidak membalas SMS Adt, dia membuat ku tidak mood sepagi ini.

Siang hari aku baru kembali ke kamar, setelah puas melakukan semua hal yang membuatku melupakan R. Aku melihat handphone ku, ada 3 panggilan tak terjawab, dari Adt. Dia menelfon ku? Tapi kenapa? Apa dia merasa bersalah sudah menggodaku pagi-pagi tadi sampai aku tidak membalas SMS-nya kemudian dia panik dan menelfon ku sampai 3 kali, ah pikiranku kemana-mana. Aku rasa tidak seperti itu. Ku letakkan lagi HP-ku, mungkin dia akan menghubungi lagi kalau memang ada yang penting.

***

Seharian entah kenapa aku seperti menunggu seseorang. Aku jadi sering melihat handphone ku, seperti berharap ada SMS masuk. Tapi hari itu tidak ada. Hari berikutnya masih sama, hari ketiga dan keempat aku masih bersikap normal. Hari kelima aku sudah tidak tahan lagi. Malam dihari kelima itu segera ku buka laptop ku, membuka facebook dan melihat-lihat akun seseorang, namun tetap saja, tidak ada update terbaru dari akun tersebut. Lalu kuputuskan tidur lebih awal. Aku masih tidak percaya aku menunggu dan mencari seseorang, seseoang yang bernama Adt.

Apakah kali ini aku sudah move on dari R dan mulai penasaran dengan Adt?
Jika benar, tentu ini progres yang baik, karna sudah saatnya aku akan lepas dari semua tetang R.
Jika benar, tapi kenapa Adt?
Dan kalau memang Adt, kenapa dia saat ini justru menghilang?
Oh..apakah sekarang aku menyesal sudah mengabaikannya?
Tentu saja tidak, aku tidak tau siapa Adt, rasanya pantas saja aku bersikap begitu.
Ahh..kurasa semua pertanyaan itu mulai membuat ku gila.
Lihat saja, jika orang itu mulai menghubungi ku lagi nanti, dia akan tau aku bisa lebih mengabaikannya, kataku dalam hati. Hah…dia menyebalkan sekali.

Dreett…Dreet…Dreett…Dreett..handphone ku bergetar lebih lama, sepertinya ada telefon masuk. Refleks aku segera beranjak mengambil handphone ku dan melihat siapa yang malam ini menelfon. Bukan Adt. Aku terdiam melihat layar handphone ku sampai layar itu tidak menyala lagi. Sebentar saja kemudian menyala dan bergetar kembali, panggilan masuk lagi, agak lama lalu ku pencet tombol angkat.

“Hallo Rhee…” terdengar suara diseberang.
“Ada apa?” jawab ku singkat. Dia R, kurasa yang membuatku sulit melupakannya karna R yang juga tidak sepenuhnya melepaskan ku. Sejak dia memutuskan aku, dia masih sering menghubungiku, menanyakan kabarku dan kegiatanku setelah sebulan aku tidak pernah mau menerimanya. Tapi dia tidak bosan dan menyerah, sampai pada suatu hari aku memiliki alasan untuk membuka kembali hubungan yang berdalih pertemanan. Mencoba menerima dan berdamai pada kenyataan aku kira bisa mengobati hatiku. Tapi tidak, R justru memperlakukan aku sama seperti Velin, aku kadang-kadang tidak bisa menerima. Setelah kehadiran Adt, baru kali ini aku mengangkat lagi telefonnya.

“Kok gitu pertanyaan kamu, kamu kemana aja tidak bisa dihubungi, aku kangen” suara diseberang membuat ku tanpa sadar mengepalkan tangan. Kangen? yang benar saja? Ku rasa dia salah menelfon.

“Rhee…? Kok diam?” sahutnya lagi.

“Aku mau tidur sekarang” jawab ku.

“Ya sudah, besok aku telfon kamu lagi yaa” katanya kemudian.

“Nggak usah, aku akan sibuk besok” jawabku.

“Rhee..aku tau kamu bohong, kamu marah sama aku? Apa aku membuat kesalahan?” tanyanya.

“Sudahlah R, sudah cukup!!” kali ini aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Bagaimana dia bisa bertanya seperti itu setelah apa yang sudah dia lakukan?

“Kamu tidak usah merasa bersalah dan kasihan padaku, aku bisa melalui ini semua sendiri. Urus dirimu sendiri dan Velin. Jangan hubungi aku lagi!!” kataku lagi.

“Tap..tapi ken….” jawab R yang langsung menghilang karna aku sudah menutup telefon. Aku menangis sejadi-jadinya lagi, meratapi kenapa dia selalu merusak semua yang sudah aku upayakan. Kenapa dia tiba-tiba muncul dan selalu muncul lagi saat aku sedang berusaha lari darinya. Kenapa dia selalu merobohkan benteng yang sudah aku bangun susah payah. Kenapa dia tidak punya hati?.

Malam itu tanpa terasa aku tertidur setelah lelah menangis semalam. Yang paling menyebalkan sepagi itu mata ku sudah bengkak, aku selalu membenci diriku sendiri saat melihat ke cermin. Aku seharusnya tidak perlu lagi menangisi laki-laki itu lagi setelah tau menangisinya hanya akan membuatku terlihat lebih buruk. Aku sedikit lega karna aku tidak harus ke kampus hari ini dengan mata bengkak. Aku tidak bisa membayangkan saat Helen tau kemudian memberondongku dengan banyak pertanyaan yang akan sulit ku jawab. Aku bosan mencari alasan lagi saat Helen bertanya.

Hari itu aku menyibukkan diri lagi, membuat benteng lagi. Dan kali ini aku membulatkan niat (lagi) untuk melupakan R. Setelah mengutuknya berkali-kali, ku tarik nafas dalam-dalam, ku hembuskan dan aku mengatakan pada diriku sendiri “Rhea..kuatlah, kamu pasti bisa, silang namanya besar-besar Rhee!!” tanganku kembali mengepal penuh kekuatan. Setidaknya terapi seperti itu membuatku lebih baik. Silang namanya besar-besar, tentu saja aku pasti bisa melakukannya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY