Dialog, setelah lima belas tahun

Dialog, setelah lima belas tahun

645
6
SHARE

 “kamu masih terlihat seperti dulu. Sepertinya, lima belas tahun tidak membawa banyak perubahan”

“beda sama kamu. Setelah lima belas tahun, kamu jadi lebih cantik”

“aku perempuan dewasa sekarang, mungkin karena itu”

“mungkin. Kamu sudah menikah?”

“Tidak. Aku tidak ingin menikah”

“apa karena aku?”

“jangan terlalu merasa. Kamu…., apa kamu bahagia?”

“bahagia? Tentu saja. Aku lelaki yang bahagia. Hidup akan sia-sia bila tidak dijalani dengan bahagia kan?”

“aku tidak berharap kamu bahagia. Kamu tidak pantas bahagia”

“sepertinya, kamu bahkan tidak berharap aku masih hidup, Luna”

“benar. Aku tidak menyangka bertemu denganmu lagi di sini. Kenapa menyapaku? Semestinya kamu berlalu saja, pura-pura tidak kenal. Itu lebih baik”

“aku rindu kamu. Lima belas tahun merindukanmu. Aku mencarimu kemana-mana. Apa kamu baik-baik saja?”

 “aku baik-baik saja, sampai ketika kamu menyapaku tadi”

“maafkan aku. Kamu benar, semestinya aku tidak menyapamu. Semestinya kita tidak membuka luka lama. Tapi aku hanya ingin melihatmu lebih lama. Aku rindu kamu”

“urus perasaanmu itu. Aku tidak butuh apapun darimu. Anggap saja pertemuan ini tidak pernah ada”

“sebentar Luna, sebentar saja. Kumohon. Aku ingin minta maaf padamu. Tentang semua yang terjadi di masa lalu. Aku terikat di masa lalu. Aku selalu dihantui rasa bersalah”

“sudah sepantasnya begitu”

“tapi Luna, waktu itu kita masih sama belia. Dan lagi, tidak ada yang terjadi setelah malam itu kan? Kita hanya sekali melakukan kesalahan. Lagi pula, bukan hanya kita yang seperti itu. Remaja lain ketika itu juga…”

“cukup, Bayu. Cukup!! aku mau pulang”

“Luna, kenapa kamu membenciku?”

“karena kamu bajingan. Menghilang setelah melakukan kesalahan. Pecundang yang tidak bertanggungjawab. Dimana kamu sembunyi waktu itu? Berminggu aku berusaha mencarimu, separuh nyawa aku menghadapi semuanya sendirian. Hinaan, amarah, malu. Dimana kamu sembunyi?”

“aku tidak sembunyi, Luna. Setelah malam itu, aku buru-buru kembali ke kotaku, Ayahku sakit. Tapi belum sempat melihat Ayah, aku malah kecelakaan. Tujuh bulan aku dalam keadaan koma. Dan setelah itu, aku tidak bisa menemukanmu”

“kecelakaan? Koma? Aku datang ke kotamu. Aku mencarimu. Tapi kata Ibumu, kamu pergi entah kemana, tidak pernah pulang lagi. Dan sewaktu aku ceritakan keadaanku, ibumu menutup pintu. Ibumu mengusirku”

“keadaanmu? Keadaanmu yang mana? Saat itu Ibu sedang kalut. Ayahku meninggal di hari kecelakaanku. Wajar saja kalau ia berkata hal-hal yang aneh. Ibuku itu sakit, ia jadi sering berhalusinasi, ia… ia… schizophrenia…”

“tidak mungkin!! Kenapa bisa ada kejadian begini? Kenapa?”

“Lun, aku sungguh ingin minta maaf. Kamu perempuan pertamaku, dan aku sangat menyesal tidak bisa menjagamu baik-baik. Apalagi setelah malam itu aku tidak menghubungimu, kamu pasti salah paham selama lima belas tahun ini”

“tidak…! Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang?”

“aku mencarimu kemana-mana. Tapi nihil. Makanya aku sangat senang ketemu kamu sekarang ini. Ini sungguh kebetulan yang baik”

“kebetulan yang baik, katamu? Kenapa baru sekarang?”

“sebenarnya Luna, aku akan menikah. Jadi aku berencana mencarimu lagi, ingin minta maaf dan memastikan kamu bahagia. Aku ingin memulai hidup baru….. Luna, kamu menangis?”

“menikah? Bukan urusanku. Kamu bisa menikah kapan saja. Tapi kalau kamu ingin minta maaf, bukan hanya aku. Minta maaflah juga pada Bintang. Setelah itu, silahkan lanjutkan hidupmu. Sepertinya garis takdir kita berselisih jalan”

“Bintang? Siapa Bintang? Apa maksudmu? Kenapa kamu menangis?”

“ah…”

“apa maksudmu, Luna? Siapa Bintang?”

“Bintang….., aku menamainya Bintang, anakku. Kamu, ayahnya”

“Apa?! Bagaimana bisa… sebenarnya apa yang terjadi?”

“sudah jelas, bukan? Malam itu, kita menghadirkan Bintang di rahimku”

“ya Tuhan… aku… Luna… aku sungguh tidak tahu, mohon maafkan aku. Ahh tidak, bagaimana aku bisa dimaafkan? Ya Tuhan…Luna… apa yang sudah kulakukan?”

“butuh lima belas tahun bagi kita menunggu kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Aku tidak tahu bagaimana menjalani hidup setelah hari ini”

“lima belas tahun… ah… kenapa bisa begini?”

“aku tidak tahu, Bayu…. Aku tidak tahu”

“dimana dia? Bintang, anak kita. Dimana Bintang? Dia sudah remaja? Seperti apa dia?”

“dia… di surga”

“dimana?”

“di halaman belakang rumahku”

“apa maksudmu? Luna, dimana Bintang?!”

“di halaman belakang rumahku”

“apa?!”

“jasadnya. Usianya delapan bulan di rahimku”

 

~sei~

Medan, 2014

 pict : watercolour painting by Kanta harusaki

6 COMMENTS

LEAVE A REPLY