Dongeng Putri Bungsu (Legenda Tapak Tuan)

Dongeng Putri Bungsu (Legenda Tapak Tuan)

1724
4
SHARE

Pada suatu ketika di pesisir sebuah negeri (pantai selatan Aceh), hiduplah sepasang Naga.  Naga Yue adalah naga betina dan Naga Ri adalah naga jantan. Kedua naga ini datang dari daratan yang jauh di seberang lautan demi untuk hidup berdua sahaja. Di negeri asalnya, mereka adalah satu-satunya pasangan naga yang tidak memiliki anak, bahkan setelah menjalani hidup sebagai pasangan selama seratus tahun dengan selalu berdoa serta menjalani pertapaan di setiap tahun. Mereka terpinggirkan, menjadi bahan tertawaan naga-naga yang lain. Karena tidak tahan dengan perkataan naga-naga lain yang selalu menghina dan menertawakan, Naga Yue memohon kepada Naga Ri untuk pergi meninggalkan negeri para naga dan memulai kehidupan baru di negeri manapun yang mereka temui pertama kali dalam perjalanan mereka. Naga Ri pun memenuhi permintaan Naga Yue. Setelah melakukan perjalanan selama berbulan-bulan, sampailah kedua naga tersebut di sebuah Negeri dengan pantai yang indah dan makanan berlimpah. Naga Yue merasa senang berada di negeri itu dan ingin menetap. Naga Ri pun menuruti permintaan Naga Yue yang sangat disayanginya itu dan membuat sebuah gua yang nyaman sebagai tempat tinggal.

 

Naga Ri dan Naga Yue hidup dengan nyaman di negeri baru itu tanpa mengalami kesulitan apapun. Negeri baru ini kaya akan makanan, rempah dan hasil bumu, membuat mereka tidak pernah kelaparan. Negeri ini juga memiliki tempat-tempat dengan pemandangan yang sangat indah yang membuat Naga Yue tidak pernah merasa bosan. Mereka hidup dengan tentram dan bahagia. Sampai pada suatu ketika, Naga Yue jatuh sakit. Ia lemah, pucat dan tidak berselera makan. Segala hal sudah dilakukan Naga Ri untuk mengobati sakit Naga Yue. Ia juga menyiapkan segala makanan yang menjadi kesukaan pasangannya itu, tapi Naga Yue tidak mengalami perkembangan apapun. Naga Yue malah terlihat semakin pucat dan lemah. Naga Ri pun cemas sehingga merasa perlu melakukan pertapaan demi kesembuhan Naga Yue.

 

Maka bertapalah ia di dalam gua, di samping Naga Yue yang terus tertidur. Ia melupakan sekelilingnya, melepaskan duniawi memohon pada Dewa agar diberikan petunjuk untuk kesembuhan Naga Yue. Berhari-hari menjalani pertapaan tidak membuat Naga Ri menyerah, ia sangat menyayangi Naga Yue. Jangankan pertapaan ratusan hari, apapun akan dilakukannya agar Naga Yue bahagia.

Karena niatnya yang mulia, pada hari ke enam belas, Naga Ri mendapatkan petunjuk untuk kesembuhan Naga Yue. Dewa memperlihatkan sebuah gambaran dalam pertapaannya. Tapi gambaran itu membuat Naga Ri terkejut dan sedih, Dewa menunjukkannya gambaran seorang bayi kecil. Bayi yang tidak pernah mereka miliki. Bayi itulah yang mampu menyembuhkan Naga Yue dari sakitnya. Tapi, darimana mereka bisa mendapatkan seorang bayi, Naga Ri berfikir keras. Hingga akhirnya ia menyerah, tidak ada hal yang bisa dilakukannya untuk mendapatkan seorang bayi. Maka ia berserah, pasrah pada apapun keputusan Dewa.

 

Hari itu, Naga Yue ingin duduk-duduk di pantai. Maka Naga Ri pun memapahnya dan membawanya ke pantai. Hari sangat cerah, pantai terlihat lebih indah dari biasanya. Sepasang naga itu duduk bersisian menghadap laut lepas, merindukan negerinya, tapi enggan untuk kembali. Maka saling berceritalah mereka tentang kenangan-kenangan akan negeri para naga, lalu tersenyum menahan kerinduan. Ketika mereka sedang asik bercerita, tiba-tiba Naga Ri melihat sebuah perahu kecil terdampar di antara karang-karang dan bebatuan pantai. Setelah mengatakan tentang perahu kecil itu, ia pun pergi untuk melihat. Dari jauh, ia hanya melihat sebuah perahu kecil yang rusak dan kosong. Ia hendak kembali ke tempat tadi ia duduk bersama Naga Yue ketika didengarnya suara tangisan bayi di antara suara debur ombak. Ia terkejut, mendekati perahu kecil itu dan terlihatlah seorang bayi perempuan di dasar perahu. Naga Ri segera mengangkat bayi itu dari dasar perahu yang basah, menggendongnya dengan takjub dan membawanya ke arah Naga Yue.

“Yue, lihatlah apa yang aku temukan” ujar Naga Ri pada Naga Yue yang masih duduk di pantai. Naga Yue yang masih lemah hanya menoleh dan tidak merasa tertarik.

“Kau menemukan sesuatu?” Tanya Naga Yue.

“Aku menemukan seorang bayi, Yue sayang. Seorang bayi!” Naga Ri tidak tahan untuk tidak berseru kencang. Ia sangat senang melihat bayi itu.

“Bayi? Kau bilang bayi? Aku tidak salah dengar, Ri yang mulia?”

“Yue, inilah bayi itu. Dia persis seperti yang ditampakkan Dewa di dalam pertapaanku” Naga Ri menunjukkan bayi di dalam gendongannya pada Naga Yue yang memandang dengan takjub sekaligus bertanya-tanya.

“Ri yang mulia, tentunya bayi ini memiliki orang tua”

“Tidak ada siapapun di perahu itu, Yue. Hanya bayi ini sahaja. Tentulah ini anugrah dari Yang Kuasa. Karna bayi ini, kau pun akan sembuh Yue” Naga Ri begitu bahagia, rasanya ratusan tahun kehidupannya baru sekali inilah ia merasa sebahagia ini. Naga Yue yang merasa ragu-ragu, akhirnya mengambil bayi dari gendongan Naga ri dan menggendong bayi itu dengan sayang. Ia membelai pipi dan memandangi wajah bayi yang sedang menangis itu. Di dalam gendongan Naga Yue, secara ajaib, bayi itu telah berhenti menangis.

“Lihatlah, Ri yang mulia, dia begitu cantik”

“Ya, mari kita namakan bayi ini. Putri bungsu, bagaimana menurutmu Yue sayang?”

“Aku setuju Ri yang mulia, nama yang bagus. Ia akan jadi yang bungsu, yang paling kita sayangi. Kita harus bersyukur pada Dewa”

Maka sejak saat itu, sepasang naga mengasuh bayi perempuan itu dengan limpahan kasih sayang yang seolah tiada habisnya. Kesehatan Naga yue pun membaik sesuai dengan penggambaran yang ditampakkan oleh dewa dalam pertapaan Naga Ri.

 

Tahun demi tahun berlalu, putri Bungsu tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik jelita. Ia menyayangi kedua Naga yang dianggapnya orangtuanya seperti kedua Naga menyayanginya. Ia tidak banyak bertanya tentang perbedaan wujud antara dirinya dan kedua naga. Ia melakukan segala hal yang diminta Naga Yue dan Naga Ri, termasuk untuk tidak pergi terlalu jauh dari gua, dari pantai. Setiap hari ia pergi keluar gua dan berjalan-jalan menyusuri pantai hingga sore datang tanpa sekalipun pernah melanggar kata-kata kedua Naga. Naga Yue dan Naga Ri memaklumi kebiasaan Putri Bungsu yang gemar menyusuri pantai, mereka percaya Putri Bungsu tidak akan melanggar kata-kata mereka. Namun pada suatu hari, Putri Bungsu telah melihat sebuah bukit di pinggir laut yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Ia yang penuh rasa ingin tahu pun mendaki bukit itu dan berdiri di puncaknya. Dari sana ia dapat melihat titik-titik hitam kecil di kejauhanyang lama kelamaan menjadi sebuah benda kecil yang terlihat mengapung di lautan. Ia pun bertanya-tanya benda apa gerangan yang ada di tengah lautan. Karena tidak menemukan jawaban, putri Bungsu pun pulang ke gua. Di gua, ia bertanya kepada Naga Yue.

“Ibunda Naga, aku telah melihat titik-titik hitam kecil di kejauhan di tengah lautan. Apakah gerangan titik-titik hitam itu?”

Naga Yue yang mendengar pertanyaan itu merasa terkejut.

“Apa kau telah pergi terlalu jauh dan mendaki bukit? Ah, kenapa?”
“Maafkan aku ibunda, aku sudah melakukan kesalahan, aku melupakan pesanmu. Semua karena rasa penasaranku” Putri Bungsu merunduk dalam.

“Putriku, aku hanya cemas bila terjadi sesuatu padamu” ujar Naga Yue demi melihat rupa Putri Bungsu yang hampir menangis. Naga Yue pun melangkah pergi meninggalkan Putri Bungsu di dalam gua.

Di luar, ia bertemu Naga Ri dan menceritakan apa yang dialami oleh Putri Bungsu. Naga Ri terlihat cemas.

“Bagaimana ini? Bagaimana bila Putri Bungsu kembali ke bukit dan melihat titik-titik hitam di lautan itu kian mendekat? Ia akan tahu bahwa titik-titik hitam itu adalah perahu-perahu yang membawa manusia. Ia akan tahu bahwa ia sama dengan mereka, anak manusia” kata Naga Ri.

“Aku pun cemas, Ri yang mulia. Aku takut kehilangan Putri Bungsu. Meskipun dia kita temukan di dalam perahu, dahulu itu, dia sudah menjadi putri kita, bukan?” Naga Yue terlihat sedih. Naga Ri diam demi mendengar pertanyaan Naga Yue. Di dalam hati, ia tahu benar bahwa Putri Bungsu tidak akan pernah menjadi putri mereka. Putri Bungsu jelas-jelas anak manusia, bukan anak Naga. Putri Bungsu bertahan berada bersama mereka hanya karena tidak pernah bertemu dengan manusia lain selama belasan tahun hidupnya. Tapi beberapa tahun terakhir ini, pendatang dari berbagai pulau di sekitar kerap datang mencari rempah-rempah ke negeri ini. Perahu-perahu mendarat di pantai di balik bukit yang didaki Putri Bungsu. Naga Ri takut bila Putri Bungsu bertemu dengan manusia lain, maka ia akan pergi meninggalkan dirinya dan Naga Yue. Ia dan juga Naga Yue sangat takut kehilangan Putri Bungsu.

“Jangan biarkan Putri Bungsu mendaki bukit lagi. Jangan biarkan dia pergi tanpa pengawasan” Ujar Naga Ri.

“Baiklah, Ri yang mulia. Aku akan mengawasinya setiap hari” Kata Naga Yue.

 

Sementara tanpa disadari kedua Naga, Putri Bungsu mendengar dengan jelas percakapan sepasang naga itu. Tiba-tiba ia saja ia merasa mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini disimpannya di dalam hati. Ia anak manusia, karena itu wujudnya berbeda dengan kedua Naga yang selama ini dianggapnya sebagai orang tuanya. Titik-titik hitam itu adalah perahu-perahu yang membawa manusia yang sama dengan dirinya. Putri Bungsu memang menyayangi  dan merasa berterimakasih pada kedua Naga, namun sesungguhnya di dalam hati Putri Bungsu ada rasa kesepian yang mendalam. Dan ketika mendengar bahwa ada manusia lain yang serupa dengannya, ia merasa bahagia. Ia ingin menemui mereka. Ia akan bertemu mereka. Ia harus mencari cara untuk bertemu dengan manusia lainnya itu.

 

Pada saat yang sama, di lautan, tidak begitu jauh lagi dari daratan tempat para Naga berdiam. Sepasang suami istri menumpang sebuah perahu dari kerajaan Asranaloka di pulau yang jauh demi mencari putri mereka yang hanyut saat terjadi banjir besar di negeri mereka, tujuh belas tahun yang lalu. Mereka mendapat informasi dari pedagang rempah-rempah yang datang ke negeri mereka bahwa pernah melihat perahu kecil dengan lambang kerajaan Asranaloka di sebuah pulau tempat mereka mendapatkan banyak rempah-rempah. Pasangan suami istri yang bertahun-tahun dilanda kesedihan akibat kehilangan putri mereka, merasa memiliki semangat hidup baru dan tidak menyia-nyiakan informasi yang didapat. Mereka segera berlayar menuju pulau yang disebutkan para pedangang rempah-rempah.

“Suamiku, aku seperti melihat sosok seorang gadis di sana” ujar sang istri tiba-tiba. Hari mulai sore, matanya menatap daratan berbukit yang tidak begitu jauh lagi. Tangannya menunjuk ke arah bukit.

“Dimana? Bukit itu masih jauh. Adinda salah melihat. Bersabarlah” ujar sang suami. Tapi ia pun tidak bisa bersabar, melihat dengan cermat ke arah bukit di daratan yang ditunjuk istrinya. Ia memang melihat bayangan sesosok gadis dengan rambut yang berkibar tertiup angin. Dalam hatinya ia meyakini bahwa itu bayangan anak gadisnya. Maka dipeluknya istrinya penuh kasih sayang. Mereka sama-sama memiliki kesepian dan rasa rindu yang besar pada putri yang telah terpisah tujuh belas tahun lamanya.

Beberapa waktu kemudian, sampailah mereka di daratan. Sebuah pantai tak jauh dari bukit dimana terlihat bayangan anak gadis mereka. Bersama beberapa pencari rempah-rempah yang sukarela membantu, mereka mulai melakukan pencarian. Tempat yang paling ingin didatangi oleh pasangan suami istri itu adalah bukit itu, tapi karena hari mulai malam, mereka menunda mendaki bukit hingga keesokan paginya.

 

Putri Bungsu yang telah melihat perahu-perahu dari atas bukit, segera memperkirakan kapan perahu-perahu itu sampai di pantai. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk datang ke bukit esok hari, tentu saja tanpa sepengetahuan pasangan Naga. Malam itu ia tidur dengan kepala yang penuh rencana.

 

Keesokan harinya, sebelum langit berganti warna, sebelum matahari muncul di cakrawala, Putri Bungsu berjingkat-jingkat melangkah keluar gua agar tidak membangunkan Naga Yue yang tertidur lelap di dalam gua. Ia melangkah sangat perlahan hingga sampai di pintu gua. Ia melihat Naga Ri masih menutup matanya namun dengan ekor yang bergerak-gerak di depan pintu gua. Ia mencari celah, agar tidak terkena libasan ekor Naga Ri. Ia masih berjingkat-jingkat, berjalan perlahan dan menahan nafasnya sampai merasa telah jauh dari penglihatan Naga Ri. Lalu ia berlari sekencang-kencangnya menyusuri pantai ke arah bukit.

 

Sepasang suami istri dari kerajaan Asranaloka tidak bisa bersabar menunggu matahari muncul di garis cakrawala. Mereka memutuskan untuk segera berjalan menyusuri pantai dan mendaki bukit. Lagipula, pikir mereka, tak lama lagi matahari akan muncul. Tak lama kemudian, mereka telah berada di atas bukit. Merasa sangat kecewa karena tidak menemukan gadis yang mereka lihat bayangannya dari perahu kemarin. Pasangan suami istri itu berbalik badan akan menuruni bukit ketika melihat seorang gadis setengah berlari terengah-engah mendaki bukit. Sosok gadis yang berlari itu persis sama dengan sosok yang mereka lihat kemarin. Sepasang suami istri itu saling berpandangan.

“Putriku….” ujar sang istri berteriak.

Putri Bungsu yang mendengar teriakan itu, menoleh ke arah datangnya suara. Sesaat ia merasa takut tapi kemudian sadar bahwa ia dan kedua orang itu berwujud serupa, mereka sama-sama manusia. Rasa takut di hatinya pun hilang dan ia berjalan mendekati.

“Putriku…” sang istri kembali berteriak.

“Namaku Putri Bungsu. Baru kali ini aku melihat sosok yang berwujud serupa denganku” Putri Bungsu bersuara tergagap.

“Oh, tentulah demikian nak. Kemarilah… kami mencarimu sejak lama” ujar sang istri di dalam isak tangisnya. Ia begitu rindu ingin memeluk putrinya. Sekali melihat saja, ia telah yakin bahwa anak gadis di hadapannya ini adalah putri kandungnya yang menghilang tujuh belas tahun lalu. Begitu banyak kemiripan di wajah Putri Bungsu dengan wajahnya sendiri.

Putri Bungsu melangkah perlahan mendekati sosok perempuan yang tengah merentangkan kedua tangannya. Lalu ia direngkuh oleh kedua tangan itu. Ia ingin berontak, takut, tidak pernah merasakan hal seperti ini. Tapi ia merasakan kehangatan mengalir dari sepasang tangan itu. Kerinduan, kasih sayang dan kesedihan bercampur dan ikut memeluknya.

“Aku ibumu, nak…” ujar sang istri sambil terus memeluk putri bungsu.

Putri bungsu pun merasakan hubungan yang erat dengan kedua orang yang baru ditemuinya itu. Ia terus menerus dipeluk bergantian oleh ayah dan ibu kandungnya. Betapa mereka sangat bahagia karna telah diberi kesempatan untuk dapat bertemu dan bersatu kembali.

 

Namun tanpa mereka sadari, pasangan Naga yang terbangun dan tidak mendapati Putri Bungsu di dekat mereka menjadi panik. Kedua Naga pun mendengar teriakan ibu kandung Putri Bungsu dari atas bukit. Mereka pun menyusul ke arah bukit. Ketika mereka sampai di bukit dan melihat Putri Bungsu yang tengah berpelukan dengan dua manusia lain, sadarlah mereka bahwa Putri Bungsu yang sangat mereka sayangi telah bertemu dengan orang tua kandungnya. Kedua naga begitu sedih, cemas dan marah. Mereka tidak sanggup melepaskan Putri Bungsu kembali kepada orang tua kandungnya.

“Tuan naga, terimakasih selama ini telah mengasuh putri kami. Kami tidak tahu membalasnya dengan apa, hanya Tuhan yang sanggup membalas kebaikan kalian selama ini” Ujar Ayah Putri Bungsu ketika melihat kedatangan Naga Ri yang diikuti Naga Yue. Putri Bungsu telah menceritakan segalanya kepada kedua orang tua kandungnya.

“Kalau kalian ingin membalas kebaikan kami, tinggalkan Putri Bungsu bersama kami” ujar Naga Ri. Ia menjadi berang karena cemas dan panik akan kehilangan Putri Bungsu.

“Tuan naga yang baik, kami tentu tidak bisa melakukan hal itu. Putri Bungsu tidak bisa terus hidup bersama kalian, tempatnya bukan disini. Ijinkanlah kami membawa Putri Bungsu agar ia hidup dengan bahagia” kali ini ibu kandung Putri Bungsu yang bicara. Tapi Naga Ri bertahan, ia tidak mau Putri Bungsu dibawa pergi. Naga Yue pun bersedih. Ia memang memikirkan kebaikan Putri Bungsu, tapi tidak sanggup bila harus ditinggalkan. Melihat Naga Yue yang bersedih, Naga Ri pun kehilangan akal sehat, ia memaksa dan mengancam. Ia bahkan membawa Putri Bungsu dengan paksa menuruni bukit. Putri Bungsu menangis sejadi-jadinya, sekeras-kerasnya.

 

Tangisan Putri Bungsu itu ternyata di dengar oleh seorang tuan pertapa yang tanpa diketahui siapapun telah lama bertapa di salah satu gua di pulau itu. Dengan kesaktiannya ia tiba di bukit dengan sangat cepat. Semua yang ada di bukit menjadi terkejut.

“apa yang menyebabkan putri itu menangis?” tanya Tuan pertapa kepada kedua Naga.

“Mereka ingin membawa pergi putri kami” ujar Naga Ri menunjuk kedua orang tua kandung Putri Bungsu.

“Putri kalian, wahai Naga?” tanya Tuan pertapa lagi.

“Kami menemukannya tujuh belas tahun lalu di dalam perahu yang terdampar. Kami yang memberinya nama. Kami mengasuhnya hingga ia tumbuh dewasa. Ini putri kami” ujar Naga Ri, berkeras.

“Ini putri kami. Kami kehilangannya tujuh belas tahun yang lalu. Kami mencari hingga menemukannya hari ini. Kami tidak ingin berpisah lagi” Ayah Putri Bungsu angkat bicara. Tuan Pertapa mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Wahai Naga, kalian seharusnya mengembalikan putri manusia ini kepada manusia. Agar ia dapat hidup bahagia. Bukankah kalian menyayangi putri ini dan ingin dia bahagia?” ujar Tuan Pertapa kepada pasangan Naga.

“Tidak. Ini putri kami. Kau jangan ikut campur Pertapa tua” Ujar Naga Ri menjadi berang. Ia pun bersikap menantang tuan Pertapa, mengeluarkan kesaktiannya dan menumbangkan beberapa pohon di sekitar. Tuan Pertapa melindungi diri dengan kesaktiannya. Ia berusaha membawa Putri Bungsu dan kedua orang tua kandungnya menuruni bukit menuju perahu yang menunggu di pantai. Naga Ri terus menyerang dengan marah. Ia tidak lagi memikirkan keselamatan Putri Bungsu yang berada di dekat Tuan Pertapa. Ia juga tidak mendengarkan Naga Yue yang berteriak memintanya berhenti menyerang. Naga Ri terus mengeluarkan kesaktiannya, menghembuskan nafas api dari mulutnya hingga membakar bukit. Ia berniat menjatuhkan Tuan Pertapa.

 

Dengan berkelit menghindar, Tuan Pertapa berhasil membawa Putri Bungsu dan kedua orang tuanya sampai ke pantai tempat perahu mereka berada. Tuan Pertapa pun meminta pada pasangan suami istri itu untuk segera berlayar membawa Putri Bungsu pergi dari pulau itu. Sementara ia akan menahan kedua naga agar tidak mengejar perahu mereka. Putri Bungsu dan kedua orang tuanya berterimakasih sebesar-besarnya kepada Tuan Pertapa.

 

Tak lama Naga Ri muncul dengan semburan-semburan api dari mulutnya, tapi Tuan Pertapa yang sakti selalu bisa menghindar dan membalas serangan Naga Ri dengan tongkat saktinya. Naga Ri mulai melemah. Naga Yue yang melihat pasangannya mulai melemah merasa khawatir dan akhirnya turut membantu menyerang Tuan Pertapa. Tapi tak lama, ia berpaling melihat perahu yang mulai berlayar dan mengejar perahu. Tuan Pertapa menghalanginya dengan memukulkan tongkat sakti ke arah Naga Yue. Naga Yue pun terhempas menjauhi perahu dan menabrak sebuah pulau hingga pulau itu terbelah dua (sekarang dikenal dengan nama Pulau Dua).

 

Naga Ri yang melihat kejadian itu menjadi sangat marah. Ia hendak menyemburkan api ke arah perahu, namun dengan sigap Tuan Pertapa kembali memukulkan tongkat saktinya ke tubuh Naga Ri hingga hancur dan berserakan. Darah pun berceceran dan membekas di tanah dan batu hingga memerah (hingga kini tanah dan batu yang memerah itu masih ada dan disebut Batu Mirah). Hati Naga Ri yang terpisah dari tubuhnya, pecah dan terlempar menjadi beberapa bagian (sekarang masih terlihat berupa batu-batu yang berwarna hitam berbentuk hati di sebuah desa yang dinamakan Desa Batu Hitam).

 

Di tempat bekas terjadinya pertempuran antara Tuan Pertapa dan pasangan Naga, tertinggallah tongkat Tuan Pertapa yang kemudian menjadi batu dengan wujud menyerupai tongkat serta sebuah tapak kaki yang terbentuk ketika Tuan Pertapa mengeluarkan kesaktiannya untuk menyerang Naga Ri. Tempat itu kemudian dinamakan dengan ‘Tapak Tuan’ (sebuah daerah di Aceh bagian Selatan).

Sementara Putri Bungsu yang kemudian dikenal dengan nama Putri Naga dan kedua orang tuanya diberitakan telah sampai dengan selamat ke negeri Asranaloka dan hidup dengan bahagia.

 

Diceritakan kembali oleh Sei dengan penambahan dari berbagai sumber.

Dongeng ini dimuat di dalam buku kumpulan dongeng KinaraKinari, Kisah Yang Hilang, Dongeng Museum Nusantara.

4 COMMENTS

  1. Wah, namanya juga dongeng ya, bukan fiksi ilmu pengetahuan. Siapa yg bs memastikan naga di zaman dulu itu bertelur atau beranak? 😀

    Terimakasih ya udah mau membaca…
    Terimakasih riqo, teimakasih subchan :))

LEAVE A REPLY