Ritual kopi

Ritual kopi

889
5
SHARE

: Kutunaikan ritual kopi, tiap kali sedih datang merasuk.

Ada bayang wajahku dalam secangkir kopi yang sewarna arang, berkerut-kerut menahan perih. Aku berharap uap panas yang mengepul dari kopi di dalam cangkir, membawa segala sedih yang melekat di bayang wajahku. Sedih ini serupa jaring laba-laba yang memerangkap jiwa. Aku bisa melihat keterpurukan sedang menubuhkan tugu keruntuhanku di depan sana, sebelum matahari terbit yang terlukis di cangkir kopi, mengalihkan pandang-pandanganku. Aku lantas hening, dalam riuh yang padat.

Dan kumulai ritual dengan sesap paling awal dari secangkir kopi yang sewarna arang. Panas merebak membakar bibir. Betapa panas ini ingin kuhembuskan pada dua bola mataku, memanggang sedih yang berdiam di tepian, yang telah menghisap habis air mata, hingga hangus dan hancur. Cangkir kopi diam dan pasrah di tanganku yang geletar. Di dalamnya, bayang wajahku masih berkerut-kerut menahan perih.

Pada tegukan pertama dari ritual yang sepi ini, kutangkap rasa pahit yang melilit membuat lidah terkelu. Aku berdoa, pahit ini mampu meracuni sedih yang jejal-jejalan di dada menghimpit nafas, memaksa jantungku berdebar dalam tempo adagio. Hingga rindu terbangun lalu bersenandung :  lagu resah yang lambat-lambat. Tubuh gigil mendamba pelukmu.

Lalu, teguk kedua dari kopi dalam cangkir yang berlukiskan matahari terbit, tumpah di mulut, mengalir mengisi ruang-ruang kosong di tubuhku. Aku ingin alirannya deras, menyeret tiap sedih yang ditemui dan membenamkan semua di rahimku. Terbenam. Terbenam. Aku lamun mengingatmu.

Dari dalam cangkir, sisa kopi sewarna arang ribut memanggil-manggil bibirku, takut dilupakan dan tertinggal. Lamunku runtuh. Maka kureguk habis tetesan kopi, menggenapi ritual, melenyapkan bayang wajahku.  Aku tahu, teguk terakhir ini akan melarung serpih-serpihan sedih yang terselip di sela-sela urat nadi. Hingga hanyut semua sedih. Pergi semua perih. Di dasar cangkir, selalu, kutemukan makna kekosongan : ketika segala yang pernah ada dan mengisi, lantas pergi memenuhi takdir yang tergaris dan tak kembali.

Di tiap helai bulu mata, setiap lepas ritual, ada letih bergelayut. Aku ingin tidur serupa bayi, sambil menunggu kekosongan yang akan datang mengisi rahimku. Kali ini, apa yang mungkin akan terlahir dari rahimku?

 

~sei~

Medan, 2014

5 COMMENTS

  1. Ritual kopi, katamu? Lebih suka no sugar atau…? Aku suka tanpa gula, dan baru tau kalau kopi lebih nikmat tanpa gula

LEAVE A REPLY