Seperti inilah aku mengingatmu

Seperti inilah aku mengingatmu

743
8
SHARE

Aku risau, berapa lama lagi kita akan diam?

Menengadah menantang langit mencoba mengumpulkan asap yang membumbung dari sisa-sisa pembakaran jasad, tadi malam.

Sementara anak-anak kita berlarian bermain petak umpet, sembunyi di tiap bayangan kita yang kian memanjang.

 

Waktu, katamu, adalah analogi yang tak pernah usai. Ia menguasai setiap ruang setiap gerak, membuat kita terus menghitung rentang menghitung jarak, antara bumi dan langit itu.

Dan cinta, katamu, adalah dongeng yang melayang di antara bumi dan langit, yang kelak akan karat karna terus diludahi waktu.

 

Aku bisu mematung, masih saja menengadah menantang langit mencoba mengumpulkan asap yang membumbung dari sisa-sisa pembakaran jasad, tadi malam.

Aku tidak mengerti kenapa cinta terlahir indah lalu dibunuh ketika tiba waktunya mati. Aku tidak mengerti kenapa bumi dan langit mesti terlihat berjarak padahal sesungguhnya saling merangkul. Aku tidak mengerti kenapa harus berpisah darimu, sementara cinta tidak mau ikut mati bersamamu.

 

Jiwa, katamu, bukan milik siapapun kita. Kedatangan dan kepergiannya tidak bisa diprediksi. Karna sebenarnya tidak ada tanggal-tanggal yang melekat pada jiwa. Inilah bentuk kebebasan sesungguhnya.

Dan aku, katamu, harus mencoba membuka mata lebih lebar, menangkap lebih banyak pemandangan, tanpa takut tersakiti.

Karna sakit, katamu, hanyalah rasa yang lekat di kejap pertama.

 

Aku masih menengadah menantang langit, dengan mata terbuka lebih lebar, menangkap lebih banyak pemandangan, tidak takut tersakiti. Meskipun air mata mengalir sampai ke dagu, aku  masih mencoba mengumpulkan asap yang membumbung dari sisa-sisa pembakaran jasad, tadi malam.

Sisa-sisa pembakaran jasadmu.

 

 

~sei~

Jogja, 2012

pict : butterfly song, watercolour painting by cathy morton stanion 

8 COMMENTS

  1. Ndak ahh nanti aku ikutan gila gimana, sayang?
    Hehe… makasih ya… kamu tau? Tulisan kamu enaaaakkk banget bacanya…

LEAVE A REPLY