Punggung Yang Menghilang

Punggung Yang Menghilang

925
6
SHARE
logo berbagi puisi emas

Hujan masih menetes di semesta senja yang semakin renta

Kabut bersama lembab yang melindap di dahandahan kastuba membisikkan sunyi

Pada percakapan-percakapan yang kita eja bersama nyeri perpisahan…

Ada hangat menggenang di sudut mata,

Juga hela nafas yang menyesakkan dada

“maafkan, aku harus pergi—bukan karena tak ingin bersamamu, tapi aku terlalu takut mencintaimu,” isakmu lirih

“ada dermaga lain yang menunggu sampanmu,” masih katamu.

“tapi aku mencintaimu,” kataku.

“ya, aku pun begitu. Aku selalu punya cukup waktu untuk mencintaimu,” sesak suaramu.

Dan langit demikian abu-abu

Yang terdengar kini hanyalah langit yang kian kosong

Cahaya memudar sendu

Degup lampulampu jalan tak lagi mendenyarkan hangat yang selalu kita kekalkan dalam puisipuisi senja.

Sehelai daun jatuh ditanting angin

Hinggap di basah rambutmu

“apakah tak ada cara lain, selain kepergian?” tanyaku

“kelak, mungkin aku kembali, atau tidak sama sekali,” jawabmu

“jika suatu nanti kau tidak ingin lagi kembali di sini, ijinkan aku mengenangmu dengan bahagia, meski dengan setitik nyeri luka,” pintaku

Dan kabut kian pekat

Setengah tergesa kau beranjak pergi, memasuki lorong-lorong kabut yang menelan lengkung punggungmu

”te amo masdeloqeu piensas,” bisikmu

Dan kau menjauh direngkuh kabut, lesap dalam samar yang kian tak terhindar

Dan perlahan, garis punggungmu menghilang

SHARE
Previous articleMenghayati Bening Nuansamu
Next articleAku dan Kamu
....

6 COMMENTS

LEAVE A REPLY