Dalam Diam Cintaku

Dalam Diam Cintaku

209
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

Secercah harapan terbentuk di dalam hati ini untuk mendapatkan sebuah cinta yang suci dan murni serta tulus dari hati, namun berbagai halangan dan rintangan membuatku menjadi tak dapat percaya diri untuk mendapatkan cinta yang sempurna karena satu-satunya lelaki yang aku cintai sangat banyak yang mengaguminya sehingga diriku saja tak dapat mendekatinya karena banyak para gadis yang cemburu bahkan tak suka dengan kehadiranku apabila mendekati lelaki yang aku sukai itu. Lelaki itu bernama Ka Yufan seorang kakak kelas dari 12 TKJ 2 yang memiliki wajah tampan dan manis serta soleh, selain itu Ka Yufan juga seorang Ketua Osis sekaligus kapten tim basket sekolah maka tak jarang banyak gadis di sekolah yang menyukainya bahkan mengaguminya. Sedangkan aku hanyalah seorang adik kelas (Junior) di SMK yang duduk di kelas 10 TKJ 2 yang tidak cukup terkenal dikalangan para siswa di sekolah, namaku adalah Indah dan aku biasanya selalu menuliskan keseharianku di sekolah maupun di rumah ke dalam buku diaryku bahkan tak sedikit aku menuliskan semua tentang Ka Yufan saat di sekolah.

Suatu ketika saat aku sedang membeli minuman di kantin SMK yang begitu ramai dan mengantri tiba-tiba Ka Yufan datang dan ikut mengantri di sebelahku, begitu Ibu kantin bertanya pesananku kini Ka Yufan juga ikut menjawab akhirnya pesanan kami sama dan saat Ibu kantin memberikan 1 gelas lemon tea tiba-tiba Ka Yufan memberikannya padaku.

“Wanita lebih utama”. Ucap Ka Yufan seraya tersenyum.
“Terima kasih banyak Ka”. Ucapku dengan malu lalu pergi.

sesaat kemudian aku meminum lemon tea dengan tatapanku yang masih tertuju pada Ka Yufan entah mengapa aku jadi begitu sangat mencintainya mungkin karena kebaikan hatinya tadi, bahkan saat temanku Sinta duduk disebelahku aku masih saja tak sadar dan masih menatap Ka Yufan.

“Awas nanti ada setan loh kalau ditatapin terus”. Ucap Sinta dengan tawa khasnya.
“Kamu koq ada disini sih? sejak kapan?”. Tanyaku dengan wajah kagetku.
“Sejak 1999 hahahaha”. Jawab Sinta dengan wajah senangnya.
“Ditanya serius koq malah bercanda jawabnya”. ucapku kesal.
“Lagian Kamu tatapin Ka Yufan terus emang ga bosen apa?”. tanya Sinta dengan wajah kesalnya.
“Tidaklah lagi pula Aku kan mencintainya”. Jawabku dengan santai.
“Lihat tuh! Arin deketin ka Yufan sambil bawa kotak brownies, emang Kamu tidak cemburu?”. Tanya Sinta seraya menunjuk ke arah Arin yang sedang menghampiri Ka Yufan.
“Biarkan saja toh Aku tak berhak karena Aku bukan siapa-siapa Ka Yufan”. jawabku dengan santai.
“Ya sudah kalau begitu Ka Yufannya nanti diambil Arin loh”. Ucap Sinta.
“Kita lihat saja apakah Ka Yufan akan menerima Arin atau tidak”. Ucapku dengan yakin.

2 bulan kemudian, kini aku memberanikan diri untuk mendekati ka Yufan namun bukan secara langsung melainkan dengan memberikan surat pada temanku untuk diberikan pada Ka Yufan.
“Kasihin dong ke Ka Yufan ok”. ucapku pada Bayu.
“Ini sudah ke 5x nya loh emang ga ada balasan dari Ka Yufan?”. Tanya Bayu dengan kesal.
“Hehehe tidak ada”. Jawabku dengan wajah malu.
“Kalau begitu jangan ngirim surat lagi”. ucap bayu kesal lalu pergi seraya membawa suratnya.

Aku memang tidak percaya diri dengan semua yang aku lakukan apakah akan berhasil atau tidak, karena aku juga sebenarnya tak mau mengirim surat kepada Ka Yufan karena aku takut dia akan menolak cintaku meski surat yang aku kirim bukan berisi tentang cinta melainkan kata-kata penyemangat seperti “jangan lupa latihan Basket dengan semangat”.

2 tahun kemudian, rasanya hampa duduk di kelas 12 namun tidak ada yang bisa aku tatapi karena sudah 2 tahun aku tak melihat keberadaan Ka Yufan setelah Ka Yufan lulus dari SMK.
“Ka Yufan! dimanakah Kau berada?”. Teriak Sinta seraya menatapku.
“Apaan sih! sudahlah jangan banyak bicara”. Ucapku kesal.
“Lagian masih aja Galauin Ka Yufan, tenang Ka Yufan sekarang udah punya calon cari aja yang baru ok”. ucap Sinta dengan bahagia.
“Koq bicaranya gitu sih”. ucapku dengan wajah cemberut.
“Sudahlah lupakan Ka Yufan sekarang fokus sama UN ok”. ucap Sinta.

8 bulan kemudian, kini aku sedang duduk dibangku peserta perpisahan karena kini aku akan berpisah dengan SMK tercinta sekian lama aku bersekolah disini akhirnya kini aku lulus juga.
“Ya nama yang meraih nilai UN tertinggi adalah……..Indah!”. Ucap MC dengan senang.
“Alhamdulillah”. ucapku senang.
“Ya untuk Indah silahkan naik ke atas panggung untuk berpidato sedikit”. Ucap MC.
“Assalamu’alaikum wr.wb Aku berada di atas panggung ini karena Allah SWT. yang telah menghendaki Aku untuk menjadi peraih Un tertinggi di SMk ini dan pastinya ridho kedua orang tuaku serta teman-temanku yang unyu dan setia pastinya terima kasih atas semuanya yang kalian berikan kepadaku akhirnya aku dapat meraih ini semua meski aku tahu sebelumnya aku tak terkenal di smk ini namun karena seiring berjalannya waktu akhirnya aku menjadi cukup terkenal di smk ini apalagi soal cinta hehehe”. ucapku panjang lebar di modium.
“Tunggu Indah, ada yang ingin bicara padamu”. ucap MC tiba-tiba.
“Siapa?”. Tanyaku.
“Silahkan naik ke atas panggung untuk Saudara Yufan”. Jawab MC.

seketika aku lemas dan terasa air mata menetes begitu saja dari mataku ini, semakin lama air mataku mulai membasahi pipi ini kini Ka Yufan menghampiriku seraya memberikan buket bunga mawar putih padaku.
“Maukah Kamu menjadi Calon Istriku?”. Tanya Ka Yufan.
“Tapi…tapi bagaimana Ka Yufan bisa meminta Aku menjadi pendamping hidup Kakak secepat ini bahkan Aku belum tahu jawaban cinta dari Kakak sebelumnya”. Jawabku dengan bingung.
“Aku selalu membaca surat-surat yang Kamu berikan dan Aku juga selalu membalasnya namun Aku tak pernah memberitahumu karena Aku merasa tak percaya diri dengan semua ini, tetapi kini Aku akan buktikan cintaku ini pada semua orang serta kedua orang tuamu bahwa Aku akan meminangmu menjadi pendampingku untuk selamanya apakah Kamu mau?”. Tanya Ka Yufan.
“Tentu Aku mau”. Jawabku dengan senang.
“Akhirnya cinta 3 tahunnya tidak sia-sia!”. teriak Sinta.
“Alhamdulillah kebahagiaannya berlipat ganda kali ini Pak”. Ucap Ibuku dengan senang.
“Iya Bu, akhirnya Anak Kita akan mendapatkan Pria soleh seperti Nak Yufan”. ucap Ayahku dengan senang.

meskipun cinta yang aku alami adalah cinta dalam diam namun ternyata cinta ini dapat membuatku mendapatkan sebuah cinta suci, murni, serta tulus dari orang yang aku cintai.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY