Codot-codot Penghisap Darah

Codot-codot Penghisap Darah

498
1
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

Jalanku belum berujung, tapi langkahku harus terhenti

dadaku terasa sesak oleh debu-debu kemusyrikan yg bebas beterbangan

menempel dalam gamis putih para punggawa keadilan

baunya menyengat memenuhi ruang-ruang kehormatan

terhisap masuk ke rongga nafas yg paling dalam

lalu meninggalkan jejak-jejak kenistaan di ujung jubahnya

 

 

Jalanku belum berujung, tapi langkahku harus terhenti

terngiang dalam telinga kecilku

suara makian yang datang dari opera terhormat dalam gedung rakyat yang mulia

terdengar lantang dari mulut-mulut srigala yang berbusa dan bertopeng domba

gaduh!, layaknya bursa lelang

berteriak meng-agungkan singasana, mengaburkan perut-perut kosong yang terserak dan tersandar di emper-emper ruang sidang yang megah.

Seolah mereka tertakdir sebagai punggawa negara

bebas memaki, menerjang, bahkan membunuh hati nurani lalu membawa hawa nafsu menjadi panglima birahi

 

 

Jalanku belum berujung, tapi langkahku harus terhenti

kakiku belum sanggup tuk melangkah saat mentari mulai memerah

samar-samar aku mendengar nasehat orang-orang yang merasa mulia

suaranya terdengar berat, mendongeng tentang kebenaran,

tapi yang keluar dari mulut berbusanya adalah kabar kebohongan

mulutnya mengangga lebar, mengeluarkan kotoran-kotoran busuk dari kantong-kantong baju yang dikenakannya

dibiarkannya terserak, terinjak-injak kawanan babi yang mengikutinya

 

 

Jalanku belum berujung, tapi langkahku harus terhenti

langkah terasa berat menyusuri jalan yang semakin menanjak tinggi

setinggi temperament pria berseragam lengkap dengan emblem kenegaraan yang berorasi dalam sandiwara keadilan

berteriak lantang, membuka lembar-lembar kepalsuan yang disusun rapi bak bait-bait puisi yang memaksa menyentuh ujung nurani

sayang, kelembutan syairnya tersamar dalam bayang-bayang hitam yang berlari-lari mengitari semua kepala-kepala tanpa badan, yang terpisah oleh keabadian

 

 

Jalankupun belum berujung, tapi langkahkupun harus terhenti

Nafasku tersedak oleh bau anyir tapak-tapak tikus yang sengaja meninggalkan jejak

Di Lorong-lorong remang yang lebar dan nyata dalam pandang

Tercecer jelas pundi-pundi kerakusan yang tersembunyi dalam hati-hati yang kotor

jatuh dari kantong-kantong seragam keadilan yang senagaja tak terkancingi

 

 

Jalanku belum berujung, tapi langkahku benar-benar harus terhenti

Terasa nyata dalam alam maya, terpampang bak lukisan indah karya sang maestro

Tubuh-tubuh kurus yang membungkuk, berbaris teratur berjalan tanpa arah

Tanganya menengadah, mulutnya bergumam, mengikrarkan semua kebohongan yang tertato dalam dadanya

 

 

Mengerikan,……

 

Riuh, dan benar-benar gaduh,

Begitu banyak yang terhempas terbuang dalam kesia-an,

Jalannya tertatih, terbebani dosa-dosa yang meresap dalam tulang-tulang pipihnya

Tapi mereka tetap kembali dengan kecongkak-an,

Menutup semua mata dan telinga kebenaran dengan tameng dusta

pijakannya tercetak dalam jejak-jejak nafas yang bau dengan keangkara मुर्कान

 

hhhhhhmmmmm

 

kakiku mulai tertatih untuk melagkah

sedikit tergesa ntuk melihat bayangan kilat yang menyambar

menampakkan sedikit saja keabadian yang menghukumnya

cambuknya menyayat badan dan mengeluarkan darah-darah yang pernah di hisapnya.

Menetes, melumuri seluruh permukaan alam, untuk membayar nazar yang tertunda

semuanya jelas terlihat dalam mata hati ini।

 

 

keprihatinan untukmu garudaku

 

1 COMMENT

  1. keprihatinan untuk garudaku
    prihatin terhadap para pejabat megara yang menghamburkan uang negara
    untuk kepentingan pribadi dan golongan

    sementara
    disekitar gedung-gedung megah kantor mereka
    masih banyak saudara kita yang mengais bekas makan mereka

LEAVE A REPLY