Sweet Chil O’mine

Sweet Chil O’mine

468
0
SHARE

Bandara yang sibuk. Orang lalu lalang berjalan kesana kemari, sibuk dengan urusannya masing-masing, sibuk dengan pikirannya sendiri. Di sudut cafe, dimeja paling belakang Omri dan Haris duduk saling berhadapan.

“Jangan lihat kebelakang, dengarkan aku. Dibelakangmu ada calon korban kita,” bisik Haris pada teman semejanya.

Seorang perempuan muda mengenakan blazer merah muda, berjalan gemulai sambil membawa koper kecil menuju pintu keberangkatan bandara. Tiba-tiba perempuan itu berbalik arah. Dia memasuki sebuah cafe yang berjarak 20 meter dari tempat mereka duduk.

Perempuan muda itu memesan secangkir capucino pada pelayan. Diseberang Omri dan Haris mengawasi gerak-gerik perempuan itu.

“Berapa umurnya,” tanya Haris.

“Apa pentingnya,” jawab Omri sekenanya.

“Ah, jawab sajalah,”.

“Duapuluh tiga,mungkin,”.

Permpuan muda itu sudah tidak ada lagi disitu. Padahal mereka hanya beberapa saat saja bercakap-cakap. Dia pergi entah kemana. Asap capucino masih tampak mengepul di atas meja. Koper kecil miliknya juga masih ada di bawah meja.

Kedua lelaki tengil itu masih menunggu kedatangannya dari kejauhan. Waktu berjalan semakin lamban. Merangkak pelan-pelan. Sejam berlalu perempuan itu tak kunjung kembali ke mejanya. Omri dan Haris saling bertatapan. Senyum mereka mengembang. Tanpa aba-aba mereka mendekati meja yang diduduki perempuan muda itu. Dengan secepat kilat Haris menyambar koper dan membawanya jauh dari keramaian.

“Kurang ajar, apa-apaan ini…lihat, dalam koper ini tak ada barang berharga berharga,” umpat Omri.

“Baiknya kita buang saja koper sialan ini….,”ujar Haris.

“Apa tidak lebih baik kau bawa pulang saja koper ini. Tapi beri aku uang seratus ribu, hitung-hitung buat ganti biaya operasional kita. Koper ini kelihatan masih bagus dan harganya mahal,gimana,”pinta Omri.

“Ya, apa boleh buat. Daripada kita pulang dengan tangan kosong. Nih, bagianmu,”ujarnya sambil menyerahkan dua lembar uang limapuluh ribuan ke rekannya.

Omri berlalu dari hadapannya. Haris masih terpaku ditempatnya. Tiba-tiba ekor matanya melirik selembar amplop kecil diantara tumpukan baju-baju dan map yang berserakan di dalam koper. Diraihnya amplop itu. Senyumnya sumringah. Otak kotornya seperti mendapat kesempatan untuk kembali beraksi. Di dalam amplop ada sebuah kunci dan tertera sebuah alamat. Dia kenal alamat itu. Sudah lama ia ingin menjalankan niat busuknya untuk mencuri di kawasan elite itu.

Tanpa Omri, Haris beraksi seorang diri. Dengan mengendap-endap dia masuk ke dalam rumah mewah itu. Dugaaannya benar, rumah itu kosong tanpa penghuni. Rumah ini tentu milik perempuan muda si pemilik koper kecil, batinnya. Ruangannya besar dan rapi dengan aneka perabotan masa kini. Ruangan kamarnya pun bersih dan wangi. Haris berteriak kegirangan dalam hati. Niat Haris cuma satu, dia ingin mencuri perhiasan atau barang berharga yang mudah dibawa dan tentu saja berharga. Di ruangan bawah ini dia tak menemukan apa yang diinginkannya.Pikirannya tertuju pada lantai atas rumah itu.

Dinaikinya tangga menuju ruangan atas rumah mewah itu. Pelan-pelan dibukanya satu persatu pintu kamar. Dikamar terakhir Haris menemukan seorang balita berumur dua tahun duduk sambil memegang terompet dan tersenyum girang melihat kedatangannya.

Amarahnya pun meledak. Anak itu tertawa sejadi-jadinya.

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY